Mitigasi risiko dapur MBG menjadi langkah strategis yang BPOM dan BGN jalankan untuk mencegah berulangnya kasus keracunan makanan. Sejak Januari hingga Oktober 2025, tercatat 75 insiden keracunan dengan korban mencapai 6.000 penerima manfaat. Oleh karena itu, pemerintah menerapkan pendekatan mitigasi berlapis untuk memastikan setiap tahap produksi terkontrol ketat.
Strategi Mitigasi Risiko Melalui Sertifikasi dan Standarisasi
Implementasi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi
BGN mewajibkan setiap SPPG memiliki SLHS yang Dinas Kesehatan keluarkan setelah inspeksi menyeluruh. Proses sertifikasi mencakup pemeriksaan konstruksi bangunan, kualitas air, dan praktik higiene pekerja. Tim verifikasi melakukan audit lapangan untuk memvalidasi bahwa standar sanitasi telah tim pengelola terapkan.
Hingga awal Desember 2025, masih banyak SPPG yang belum mengantongi sertifikat ini. Kemudian, BGN menargetkan seluruh dapur memperoleh SLHS sebagai syarat wajib operasional. Dengan demikian, mitigasi risiko dapur MBG dapat pemerintah implementasikan sejak tahap perizinan.
Penerapan Sistem HACCP untuk Identifikasi Bahaya
Sistem Hazard Analysis and Critical Control Points membantu tim SPPG mengidentifikasi titik kritis yang berpotensi mencemari makanan. Tim memetakan seluruh proses untuk menemukan area rawan kontaminasi. Selanjutnya, mereka menetapkan batas kritis dan prosedur monitoring untuk setiap CCP.
Pusat alat dapur mbg menyediakan konsultasi implementasi HACCP bagi SPPG yang membutuhkan pendampingan teknis. Lebih lanjut, dokumentasi lengkap wajib tim simpan untuk keperluan audit berkala.
Mitigasi Risiko Dapur MBG Melalui Pelatihan SDM
Program Sertifikasi Penjamah Makanan
Pemerintah mengerahkan puluhan ribu koki profesional untuk melatih juru masak di seluruh SPPG tentang praktik keamanan pangan. Program pelatihan mencakup edukasi praktik dasar seperti memastikan penjamah pangan bebas dari penyakit menular. Pekerja wajib mengganti pakaian kerja di lokasi dan menggunakan APD lengkap.
Setiap personil harus memiliki sertifikasi dari lembaga resmi. Medical check-up rutin memastikan pekerja tidak membawa penyakit yang dapat mencemari makanan. Oleh karena itu, mitigasi risiko dapur MBG dimulai dari kualifikasi SDM yang ketat.
Pelatihan Manajemen Keamanan Pangan
Tim SPPG mengikuti pelatihan komprehensif tentang Five Keys to Food Safety dari WHO yang mencakup kebersihan dan pemisahan bahan mentah dan matang. Pelatihan ini digelar secara masif di berbagai daerah dengan total peserta mencapai puluhan ribu penjamah pangan. Kemudian, peserta mendapat modul praktis tentang pengelolaan bahan makanan.
Mitigasi Berbasis Teknologi dan Surveilans
Sistem Monitoring Digital Real-Time
BGN mengembangkan dashboard digital untuk memantau mutu bahan baku, proses produksi, dan distribusi makanan secara langsung. Sistem ini memungkinkan pengawas memeriksa suhu penyimpanan dan waktu pengiriman dari pusat komando. Teknologi sensor IoT memberikan alert otomatis ketika suhu makanan keluar dari zona aman selama distribusi.
Surveilans Berbasis Risiko
BPOM mengandalkan surveilans berbasis risiko untuk memetakan lokasi dengan potensi bahaya tertinggi. Tim memastikan SPPG berisiko tinggi menjadi prioritas pengawasan intensif. Pemetaan ini mengevaluasi kejadian sebelumnya dan mengidentifikasi potensi ancaman baru di wilayah tertentu. Dengan demikian, sumber daya pengawasan dapat pemerintah alokasikan secara efisien dan tepat sasaran.
Respons Cepat dan Investigasi Insiden
BPOM membentuk tim respons cepat yang siaga 24 jam untuk menangani laporan keracunan makanan. Setiap puskesmas memiliki tim surveilans yang melakukan investigasi dan pengambilan sampel untuk uji laboratorium. Sampel makanan wajib SPPG simpan jika ditemukan kasus tidak diinginkan.
BPOM mengajukan tambahan anggaran untuk mendukung kegiatan strategis termasuk pengujian sampel kasus keracunan. Anggaran ini memastikan infrastruktur investigasi dan mitigasi risiko dapur MBG dapat berjalan optimal di seluruh Indonesia.
Kesimpulan
Mitigasi risiko dapur MBG memerlukan pendekatan holistik yang menggabungkan sertifikasi, pelatihan SDM, teknologi monitoring, dan sistem respons cepat. Komitmen semua pihak dalam menjalankan protokol mitigasi akan memastikan target zero accident tercapai dan program MBG memberikan manfaat maksimal tanpa membahayakan kesehatan penerima.
